Sakit

9 Juli 2026 | 6 minute(s) read

Adam Ibnu Alfatah

Sakit

Sedikit kisah perjuanganku melawan rasa sakit yang entah apa dan kapan aku bisa menyudahi, dan gimana akhirnya aku berdamai sama kondisiku sendiri.

LifeHealthStoryMotivation

Sakit

09 Juli 2026, Pukul 13.44, di kerjaku dan mati lampu.

Nulis ini bukan karena aku lagi di kondisi terbaik. Justru sebaliknya.

Tapi kadang, momen paling “nggak sempurna” itulah yang paling jujur buat ditulis. Jadi ya, ayo kita mulai.


Ini cerita yang udah lama pengen aku keluarin. Bukan buat minta kasian, bukan buat pamer kuat juga. Tapi buat siapapun yang lagi baca sambil nahan sakit, fisik maupun yang lainnya, aku pengen kamu tau kalau kamu nggak sendirian.

Dan kalau hari ini kamu lagi merasa berat, boleh banget istirahat sejenak di sini.

Waktu Kecil: Rasa Sakit yang Nggak Ada yang Percaya

Kamu pernah nggak ngerasain sakit, tapi nggak ada yang percaya kamu sakit?

Rasanya kayak teriak di ruang kosong. Dan itu melelahkan banget.

Ketika teman-teman sebayaku lari-larian di lapangan dengan bebas dan tawa yang lepas, aku juga ikut berlari. Kelihatannya sama aja. Tapi setelah itu, aku tumbang.

Bukan lelah biasa. Bukan capek yang hilang setelah istirahat. Yang aku rasakan adalah nyeri sampai ke tulang, syaraf yang rasanya ditarik-tarik, dan napas yang susah keluar karena sakitnya sudah kebawa ke mana-mana. Bahkan bisa berujung demam tinggi, dan duniaku jadi kuning. Warna yang nggak bisa aku jelasin kenapa bisa kuning, tapi itu tandanya badanku lagi benar-benar menyerah.

Awalnya aku cerita ke orang tua. Dan reaksi mereka?

“Ah, kamu cuma lelah biasa.”

Kalau kamu pernah ngerasain hal yang sama, aku tau rasanya gimana. Rasanya kayak kondisimu di-invalidate. Kayak yang kamu rasain nggak nyata. Padahal nyata banget, dan menyakitkan.

Dan aku maklum, sih. Kelihatannya memang nggak ada yang beda dari luar. Kaki aku normal. Badanku normal. Gerakanku normal. Cuma aku yang tahu kalau di dalamnya ada sesuatu yang tidak normal.

Berkali-kali aku mengeluh, berkali-kali diabaikan. Sampai akhirnya, entah karena frekuensinya makin sering atau karena ekspresi sakitku yang makin nggak bisa disembunyiin, orang tuaku perlahan sadar. Bahwa ini bukan drama. Bahwa anaknya memang punya perbedaan.

Jadi kalau kamu lagi di fase ini, di mana belum ada yang percaya atau belum ada yang ngerti, tolong jangan menyerah. Suaramu valid. Sakitmu nyata. Terus bicara, terus cari orang yang mau mendengar.

Sekolah Dasar: Puncak Perang

Kalau boleh jujur, SD adalah masa paling berat dalam perjuanganku.

Mulai kelas 3, aku sering nggak masuk sekolah. Bukan karena males. Bukan karena mau bolos. Tapi karena kakiku kambuh, dan untuk sekadar jalan ke kamar mandi pun rasanya kayak cobaan yang nggak main-main.

Pagi-pagi aku sudah dimarahi. Dikira alasan. Dikira lebay. Padahal dalam hati aku nangis bukan karena nggak mau sekolah, aku nangis karena aku nggak bisa, dan nggak ada yang mau mendengar itu.

Pernah nggak kamu ngerasain gitu? Punya alasan yang valid tapi dianggap cuma alasan? Itu berat banget. Dan kalau kamu pernah atau lagi ngerasain itu sekarang, aku mau kamu tau: kamu nggak salah. Kamu nggak lemah. Kamu cuma lagi berjuang dengan sesuatu yang orang lain belum ngerti.

Tapi ya namanya hidup, selalu ada plot twist-nya.

Justru ketika aku sudah mulai menerima sakitku, ketika aku udah nggak ngeluh lagi, udah diem aja walau drop sampai demam berhari-hari, di situlah orang tuaku malah mulai aware. Lucu? Iya, agak ironis. Tapi itu yang terjadi.

Dan tanpa sepengetahuanku, mereka diam-diam ke sekolah. Ngobrol sama semua guru. Bilang soal kondisiku. Minta pengertian.

Aku baru tau ini bertahun-tahun kemudian. Ketika aku akhirnya menyadari bahwa tas sekolahku yang semalam sudah kusiapkan lengkap sama baju olahraga, tiap paginya selalu ada yang raib.

Orang tuaku diam-diam mengambil baju olahragaku. Setiap malam sebelum hari olahraga.

Reaksi pertamaku? Kesel juga, wkwk. Rasanya kayak privasi misi rahasiaku dibobol. Tapi makin ke sini, aku ngerti. Itu cara mereka bilang “kami sayang kamu” tanpa bilang langsung. Mereka nggak mau aku sakit, tapi mereka juga nggak mau aku malu.

Kadang orang-orang di sekitar kita punya cara aneh buat peduli. Dan itu oke. Yang penting, mereka ada.

Perjuanganku Melawan Diriku Sendiri

Yang paling berat bukan sakitnya.

Sakitnya bisa ditahan. Sakitnya bisa dinikmati dengan cara yang aneh dan susah dijelaskan. Yang paling berat adalah ketika kamu harus lari bareng teman-teman, kaki kamu nyeri sampai ke sendi, tapi kamu tetap senyum. Karena kamu nggak mau dikasihani. Karena kamu nggak mau dilihat beda.

Teman-teman melihatku “unik” kalau lari. Mungkin mereka kira aku punya gaya lari tersendiri, atau lagi bercanda. Padahal aku lagi pakai seluruh sisa energiku buat nahan nyeri yang nggak keliatan dari luar.

Dan ya, aku sering diketawain.

Lari aku emang agak beda. Entah keliatan aneh, entah kelihatan lucu, aku nggak tau persis gimana mereka lihatnya. Yang aku tau, tawa itu ada. Kadang kenceng, kadang cuma bisik-bisik sambil senyum-senyum.

Tapi jujur? Aku nggak pernah ambil hati.

Bukan karena aku kuat banget atau nggak punya perasaan. Tapi karena aku tau sesuatu yang mereka nggak tau. Aku tau berapa harga yang aku bayar buat bisa ada di lapangan itu. Aku tau apa yang aku tahan setiap langkahnya. Dan dengan tau itu, tawa mereka terasa… kecil. Terlalu kecil buat dibawa pulang.

Kalau kamu lagi di fase ini, di mana orang-orang nggak ngerti dan mungkin malah nge-judge, inget ini: mereka nggak tau perjuanganmu. Mereka nggak liat apa yang kamu hadapin tiap hari. Jadi pendapat mereka? Nggak usah dibawa. Simpan energimu buat hal yang lebih penting, buat dirimu sendiri.

Dan dengan kondisi seperti itu, kira-kira kamu mikir aku jadi apa di sekolah?

Jadi atlet terbaik? Idolanya guru olahraga? Kapten tim? Dapat beasiswa olahraga?

Wkwk. Sayangnya bukan, guys.

Tapi ini yang aku syukuri. Aku juga bukan yang terburuk. Di tengah semua rasa sakit itu, aku masih bisa bergerak, masih bisa ikut, masih bisa senyum. Aku bukan juara, tapi aku bukan yang kalah juga.

Aku cuma jadi yang ter-unik, sering nggak ikut olahraga, entah dikira males, takut, atau nggak suka. Padahal kenyataannya, aku dilarang. Oleh kondisiku sendiri, dan oleh orang-orang yang sayang padaku.

Dan kamu tau? Itu cukup. Nggak perlu jadi yang terbaik. Nggak perlu sempurna. Yang penting kamu masih di sini, masih berusaha, masih bertahan. Itu sudah luar biasa.

SMP: Ketahuan Juga

Masuk SMP, ritual yang sama berulang. Ibuku sudah duluan lapor ke guru olahraga sejak hari pertama. Minta guruku mengerti tanpa perlu nyebarin kondisiku ke mana-mana, biar aku nggak malu.

Dan strategi itu cukup berhasil… sampai ada momen pramuka.

Teman-temanku akhirnya main ke rumah. Sore itu kita lagi seru-seruan main game, ketawa-ketawa, nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba aku drop.

Badan panas tiba-tiba. Pandangan mulai kuning. Aku minta permisi masuk kamar orang tua, langsung nangis, lapor kakiku kambuh. Dan dalam hitungan menit, aku udah minta mama buat nyuruh temanku pulang dulu.

Tapi nasi sudah jadi bubur. Mereka tahu.

Hari Seninnya, teman-temanku menyapaku dengan cara yang berbeda. Mereka minta maaf karena baru tahu. Mereka nggak ngerti sebelumnya.

Dan di situ… aku nggak merasa malu. Aku justru merasa lega.

Karena aku akhirnya nggak perlu pura-pura lagi di depan mereka. Karena ternyata, ketika orang-orang tahu kondisimu yang sebenarnya, dunia nggak runtuh. Mereka justru jadi lebih mengerti.

Di titik itulah aku mulai berdamai dengan kondisiku.

Dan aku harap kamu juga bisa sampai ke titik ini. Titik di mana kamu nggak perlu malu lagi sama kondisimu. Titik di mana kamu bisa bilang, “Ini aku. Dan aku oke-oke aja dengan ini.” Karena kondisimu bukan sesuatu yang harus kamu sembunyiin. Kamu masih kamu, dengan atau tanpa itu.

SMK: Yeay, Kakiku Sembuh!

Nggak bisa dibilang 100% sembuh, sih. Sesekali masih ada momen di mana tiba-tiba sakit datang tanpa permisi. Tapi bedanya, sakitnya nggak separah dulu. Nggak sampai demam, nggak sampai dunia jadi kuning.

Dan yang paling aku syukuri: aku bisa olahraga lagi. Beneran. Bebas. Tanpa takut tumbang.

Pertama kali bisa lari tanpa sakit yang menggelayut, rasanya… gimana ya. Kayak sesuatu yang selama ini aku pikir nggak akan pernah aku punya, tiba-tiba ada di telapak tanganku.

Mungkin buat orang lain itu hal yang biasa banget. Tapi buat aku, yang bertahun-tahun cuma bisa lihat dari pinggir lapangan sambil pura-pura nggak pengen ikut, itu rasanya luar biasa.

Dan kalau kamu lagi di fase “belum sembuh”, aku nggak janji kamu bakal sembuh kayak aku. Karena setiap kondisi beda. Tapi aku janji satu hal: setiap fase punya momennya sendiri. Dan di fase apapun kamu sekarang, masih ada ruang buat bahagia. Masih ada hal-hal kecil yang bisa kamu syukuri.

Setelah Semua Ini

Kakiku sekarang jauh lebih baik. Banyak olahraga yang bisa kulakukan dengan tenang, yang dulu bahkan nggak berani aku bayangkan.

Tapi cerita ini bukan soal “aku sembuh dan bahagia selamanya.”

Cerita ini soal perjalanan yang nggak pernah semulus itu. Penuh drama, penuh momen ironis, penuh pagi-pagi dimarahi, penuh baju olahraga yang raib dari tas, penuh tawa yang dipaksain sambil nahan nyeri.

Dan di tengah semua itu, aku belajar satu hal:

Kamu nggak harus sembuh dulu buat bisa bahagia.


Buat kamu yang lagi baca ini, yang mungkin lagi punya kondisi yang bikin hidupmu terasa lebih berat dari orang lain, aku nggak akan bilang “kamu pasti bisa!” dengan nada yang terlalu ringan. Karena aku tau rasanya nggak seringan itu.

Kadang kamu kuat. Kadang kamu nggak kuat. Dan dua-duanya oke.

Tapi yang aku mau kamu tau adalah ini: sedih atau senang, itu kita sendiri yang menentukan.

Sakitmu nyata. Kesulitanmu nyata. Tapi di luar semua itu, masih ada ruang buat kamu tetap jadi dirimu sendiri, yang bisa senyum, yang bisa ketawa, yang bisa menikmati momen kecil di sela-sela semua yang berat itu.

Jangan biarkan sakitmu mencuri seluruh kebahagiaanmu. Karena kamu berhak bahagia bukan setelah sembuh, bukan setelah semua beres, tapi sekarang, hari ini, dalam kondisi apapun yang sedang kamu jalani.

Kamu nggak sendirian. Dan kamu lebih kuat dari yang kamu kira.

See you di cerita berikutnya. Take care, ya.